Artikel
SEJARAH DESA SAMBOGUNUNG
Dari berbagai sumber sejarah, khususnya silsilah yang ada bahwa Desa Sambogunung, diambil dari nama seorang Dewi/Putri yaitu yang bernama Nyai Sambo. Nyai Sambo merupakan cucu dari Sunan Wuluh Giri. Nyai Sambo kawin dengan Pangeran Kusumo Yudho. Setelah masuk Islam Pangeran Kusumo Yudho diberi julukan dengan Kyai Abdul Jabar (Jojokan) makamnya sekarang ada di Jawa Barat.
Kyai Abdul Jabar (jojokan) anak ke-6 dari Prabu Brawijaya IV. Dari perkawinan antara Kyai Abdul Jabar dan Kyai Sambo melahirkan 8 anak. Anak yang pertama diberi nama Kyai Abdullah Sambo. Dari sejarah tersebut akhirnya tempat kelahiran Kyai Abdullah Sambo diberi nama Desa Sambo.
Sedangkan gunung diambil dari kata geneng. Konon menurut cerita bahwa sambo merupakan lautan/segoro. Karena erosi (perubahan alam) segoro tersebut menjadi daratan, ada dataran tinggi dan ada dataran rendah. Sejak saat ini maka desa sambo terbagi menjadi dua bagian yaitu Sambo yang terletak di dataran rendah (Sambopinggir) dan Sambo yang terletak di dataran tinggi (Sambogeneng). Kemudian istilah Sambogeneng diganti dengan Sambogunung.
Sementara itu menurut sejarah menyebutkan bahwa yang menyebabkan komunitas di desa Sambogunung bertambah lebih banyak adalah keturunan dari Kyai Abdullah Sambo. Salah satu keturunannya adalah Buyut Nuriman. Dari sinilah sehingga penduduk Sambogunung terus bertambah sebagaimana sekarang ini.
Untuk mengenang jasa dan perjuangan Kyai Abdullah Sambo di desa Sambogunung, maka dibangunlah Mushollah yang diberi nama Musholla Abdullah.
P3D SAMBOGUNUNG 2022
Persyaratan Layanan Akta Kelahiran
Membangun Desa Lewat Gotong Royong

